Menanti Gebrakan Kreatif Dari Badan Ekonomi Kreatif

Menanti Gebrakan Kreatif dari BEKRAF


BEKRAF/Badan Ekonomi Kreatif merupakan lembaga bentukan presiden RI Joko Widodo di tahun 2015 yang sesuai namanya tentu harusnya merumuskan, menetapkan, serta mengkoordinasikan kebijakan dalam bidang ekonomi, khususnya ekonomi kreatif.
 
Setelah sekian tahun berjalan, jujur saya menilai bahwa BEKRAF sepertinya lebih sibuk berkutat di bidang pengenalan, pengembangan, dan mungkin sesekali membantu pemasaran bidang-bidang pakaian, kerajinan tangan, dan sejenisnya. Padahal kalau bicara mengenai konten kreatif, industri pakaian misalnya agak sulit untuk dikategorika sebagai industri kreatif. Mengapa demikian? Karena industri seperti itu sebetulnya hanya membuat molding/cetakan untuk kemudian diproduksi secara masal. Lalu, dimana arti kreatifnya? Sesuai namanya, industri kreatif itu sebetulnya lebih cenderung bergerak di ranah industri dimana output atau produksi yang dihasilkan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Cakupannya bisa bidang tulis-menulis, mengarang, film, klip video, iklan, musik, lagu, tari kontemporer. Bidang-bidang yang saat lolos dari manusia penciptanya sudah pasti akan berbeda dari sebelumnya dan beda pula dari yang lain-lainnya. Sedihnya, BEKRAF tentang kurang kreatif. Kita masih menanti gebrakan BEKRAF sedemikian rupa agar, misalnya, tayangan di layar kaca jangan diisi para presenter atau komedian yang itu-itu saja. Baik yang lebai maupun melambai sehingga seolah dunia layar kaca diisi oleh satu kartel tertentu dengan personil yang itu-itu saja.

Kita masih menanti gebrakan BEKRAF sedemikian rupa agar bidang kepenulisan cerpen tidak mati suri yang kini ditandai dengan ditutupnya majalan-majalah yang sebenarnya telah eksis belasan atau bahkan puluhan tahun. Kapan kita terakhir membaca majalah berisi kumpulan cerita seperti SENANG, Tomtom atau Anita Cemerlang? (Ups.... jadi ketahuan betapa tuanya diriku).

Begitupun bagi mereka yang tertarik dengan ilustrasi digital. Seberapa sulit sebetulnya untuk memfasilitasi pembentukan dunia komik, kartun, atau digital art melalui penerbitkan buku komik atau pembuatan film animasi yang disubsidi? Atau bagaimana dengan mereka yang mencari nafkah sebagai penulis artikel 1000an kata di blog yang banyak dibayar sangat murah yang saya sendiri pun tidak tega menuliskan angkanya di sini.

Mereka tidak menjadi besar bukan karena mereka kurang hebat tapi karena peluang yang memang belum ada. Dan peluang itu yang mustinya secara kreatif diciptakan oleh pemerintah c.q. BEKRAF tercinta. Ketika semua bidang itu semua digarap, kita bisa bergetar melihat betapa banyaknya - pasti jutaan - orang yang mencari nafkah dengan menggeluti bidang kreatif. Angka kemiskinan akan menurun. Gini ratio ikut membaik. Mudah-mudahan curcol ini terdengar sampai di balik dinding istana saat pak Triawan bersama dengan pak Jokowi...

Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran