Cara Membuat Novel Best Seller

Cara Membuat Novel Best Seller

Membuat karya tulis dan khususnya sebuah novel dengan kategori best seller adalah suatu impian yang ingin sekali dicapai oleh setiap penulis fiksi. Banyak sekali para penulis mencari segala cara, menelusuri berbagai trik, hingga berguru ke orang yang dianggap memiliki pengalaman untuk bisa mengalami hal yang sama.

Memiliki karya dengan kategori best seller jelas merupakan impian semua penulis. Namun, jika saja penulis itu mau jujur, apakah ada cara untuk menggapainya? Betul, sebuah karya semacam itu sudah pasti harus dibuat dengan cara yang istimewa baik dari segi plot cerita, penuturan, penentuan karakter, unsur drama, hingga kemudian cara mengakhiri suatu cerita. Nah, apabila seseorang sudah bisa menghasilkan karya sedemikian itu, sudahkah bisa dijamin bahwa karya tersebut ketika diterbitkan oleh penerbit akan mencapai kategori best seller? Menjadi novel dengan penjualan besar? Jawabannya: belum tentu.

Unsur-unsur di atas memang perlu dan bahkan sangat perlu. Tapi itu tetap saja bukan sebuah jaminan.

Bagaimana jika ditambah faktor-faktor lain seperti dikatrol dengan promosi gencar berbiaya mahal atau ditulis langsung oleh public figure? Dua hal itu memang jelas bisa mengkatrol penjualan. Bayangkan jika buku itu mengenai tokoh terkenal di negara ini, dan kemudian ditopang dengan promosi besar-besaran via media cetak maupun elektronik. Kemungkinan mencapai kagegori best seller sepertinya memang sudah bisa mencapai 95%.

Tapi - nah ini pertanyaan penting - seberapa banyak sih penulis yang mempunyai kedua hal tersebut? Penulis yang namanya sudah top markotop duluan bahkan sebelum dia mengetik satu kata pun? Yang memiliki keuangan berlimpah untuk melakukan promosi dan tour?

Saya adalah penulis yang kebetulan pernah sedikit mencicipi kenangan ketika novel saya mencapai kategori Best Seller di tahun 2004. Ini satu pengalaman membanggakan yang tentu saja ingin saya ulangi untuk terjadi lagi di novel-novel berikutnya. And you know what? Pengalaman itu hanya terjadi satu kali dan sampai saat ini belum pernah terulang lagi. Padahal saya merasa bahwa dari waktu ke waktu kemampuan saya mengalami peningkatan.

Jadi dengan pengalaman itu boleh dong saya 'berhak' memberikan pendapat tentang topik di atas. Menurut saya ketika kita - sebagai ordinary writer yang tak punya nama dan dana memadai untuk memasarkan karya kita - menyerahkan naskah ke penerbit kita tidak akan pernah tahu bahwa karya kita akan mencapai kategori best seller.

Itu semua tergantung faktor luck. Keberuntungan. Tergantung Sang Khalik ketika Dia memang berkenan ingin mengangkat kita melalui karya tulis kita. Kita hanya bisa terus berkarya menciptakan karya terbaik dan selanjutnya biar kisa berpasrah diri pada Tuhan. Otomatis jika kita melakukan seperti itu kita tidak akan melahirkan karya-karya nyeleneh yang mendukakan hatiNya.

So pasti lah. Karya bernuansa porno, kekerasan, fitnah, tak akan keluar begitu saja. Sebagai penulis dengan prinsip kehati-hatian seperti itu, kita akan menjadi penulis berintegritas yang menyisip niai-nilai positif dan tidak sembarangan menghasilkan karya hanya demi untuk mengejar fulus.

Pandangan saya bisa jadi masih terlalu prematur. Namun apapun itu, niat menulis hendaknya tetap harus tetap menyala. Jaga otot-otot menulis dengan aktif menulis sambil menambah wawasan. Tetap hasilkan yang terbaik, apapun hasilnya.

Tetap semangat untuk terus berkarya.




Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran