Langkah#4 Menulis Novel: Sinopsis (3)


Lebih Detil Dengan Struktur Drama 3 Babak


            Bininya Q muncul dan ngasih tau kalo ada telpon masuk buat suaminya. Mengingat orang yang nelpon adalah bapak mertuanya, Q lantas ninggalin ruangan sambil nggak lupa ngasih catetan sebanyak tiga lembar kertas kuarto.
            “Coba kalian pelajari. Ini adalah Sinopsis yang langsung dibuat dengan struktur drama tiga babak. Babak pertama berisi perkenalan karakter sebagai latar belakang cerita dan titik awal konflik di ending-nya. Babak kedua berisi konflik yang makin memuncak disertai pergesekan. Sedangkan babak ketiga adalah konflik yang makin memanas, mencapai puncak dan berakhirnya konflik.”
            “Kita cuma baca aja?” tanya Devvy sambil nerima lembaran bagiannya dari Gemblong yang kebagian tugas ngebagi-bagiin.
            “Baca dan pelajari. Gue kasih waktu sejam.”
            “Bung mau kemana?” tanya Tumpal penasaran. “Koq lama amat sampe sejam?”
            “Ada telpon penting.”
            “Telpon penting sampe sejam?” tanya Tumpal kritis.
            Q nyengir. Malu. Tumpal yang seumuran dengannya emang nggak gampang dikadalin.
“Selain nelpon, gue emang ada hal lain,” katanya jujur sambil buru-buru pergi. “Sori, gue pengen tidur bentar. Gue nonton bola sampe subuh.”
Langsung kedengeran suara dengung seperti lebah. Ada yang kecewa, ada yang ketawa, ada yang mesem-mesem. Semenit kemudian, mereka semua mulai ngebaca apa yang tadi barusan disebut Q sebagai Sinopsis dengan struktur drama tiga babak.

BABAK I:

Vinny (17 tahun, kelas II SMU) adalah anak tomboy, kaya, pecicilan, jutek dan tidak sabaran. Pada suatu saat ketika menaiki mobilnya, ia nyundul-nyundul seorang polisi-cepek yang dianggap tidak memberi jalan buat dirinya. Kejadian itu membuat si sopir-cepek mengalami kecelakaan kecil. Ivan (19 tahun, guru musik, pendiam, introvert, dari keluarga menengah) yang melihat hal itu ternyata tidak sepaham dengan ulah Vinny karena menurutnya polisi-cepek itu juga tengah mencari nafkah. Mereka bertengkar sebelum kemudian berpisah dengan rasa saling tidak suka.
            Menjelang sore, dua sahabat Vinny yaitu Beben dan Gendon, datang ke rumah Vinny karena mau mengerjakan PR. Ketika mereka selesai belajar bersama, dengan berbagai alasan Beben dan Gendon tidak lagi bisa mengendarai motor. Vinny lantas mengantar mereka dengan motor sehingga kini mereka bertiga naik motor bebek sama-sama. Sayangnya, di perjalanan, motor mereka kehabisan bensin.
            Pada saat itu Ivan, yang menjadi guru sekolah musik, baru pulang mengajar. Ivan yang baik hati lantas menawarkan bantuan agar mereka bisa mengisi bensin di SPBU. Walau jutek, Vinny setuju. Sambil Vinny menaiki motornya, Ivan kemudian mendorong dari belakang sementara Beben dan Gendon berlari di belakang mereka. Mereka kemudian tiba di SPBU yang ternyata tutup. Tidak ada pilihan lain, mereka harus mencari penjual bensin eceran walaupun Beben dan Gendon sudah ngos-ngosan. Mereka berjalan lagi sampe akhirnya tiba di sebuah flyover dimana sampai saat itu motor Vinny didorong Beben dan Gendon. Vinny mulai bersikap baik pada Ivan. Namun, gara-gara mereka saling ngobrol, tak terasa motor Vinny sudah sampai di puncak dan langsung meluncur dengan kecepatan tinggi. Padahal rem motor saat itu mendadak ngadat dan tidak berfungsi. Akibatnya, kecelakaan kecil terjadi. Mereka bertengkar lagi dan Vinny mengomeli Ivan habis-habisan.
            Besoknya, begitu bubaran sekolah, datang omma Asih menjemput Vinny. Ia adalah nenek Vinny yang gaul, maniak gadget, dan saat itu ia barusan ngabur dari Panti Jompo karena bete. Omma Asih yang tahu bahwa Vinny haus kasih sayang orangtua mengajak Vinny agar ikut saja ke perkumpulan manula yang hari itu diadakan di rumah omma Eni, salah seorang anggotanya. Vinny mulanya mau menolak. Tapi karena omma Asih maksa, Vinny mengalah. Tanpa diduga rumah omma Eni adalah rumah Ivan juga karena omma Eni adalah neneknya. Saat Vinny dan Ivan didaulat untuk bermain piano bersama dan akibatnya Vinny-Ivan kini berteman.

KETERANGAN: Babak I berisi latar belakang tokoh, konflik tahap awal dan diakhiri dengan selesainya sebuah kasus. Kasus ini akan menjadi awal kisah baru untuk  Babak II.

BABAK II:

Begitu pulang, Vinny dengan Ivan sudah mulai akrab. Pada saat itu Ivan sempat menyatakan bahwa ia bercita-cita untuk jadi musisi yang bisa berkarya di depan orang banyak. Sementara itu, hubungan omma Eni – omma Asih semakin akrab. Melihat kedekatan Vinny – Ivan, mereka sepakat untuk menjodohkan. Orangtua Vinny semakin sibuk karena sedang mengejar tender proyek raksasa. Waktu untuk Vinny semakin sedikit. Untuk menghibur Vinny, mereka lantas membelikan Vinny sebuah kendaraan. Vinny sedih karena sebetulnya yang ia paling butuhkan adalah perhatian orangtuanya. Ternyata omma Asih pun punya masalah yang sama. Ia merasa dibuang oleh orangtua Vinny ketika dia ditempatkan di panti jompo. Untuk menghibur diri, keduanya sepakat untuk jalan-jalan dengan mobil baru Vinny. Omma Asih lantas menelpon omma Eni untuk mengajak jalan-jalan sore dengan tak lupa mengajak Ivan. Jadilah mereka berempat naik mobil.
            Setelah tiba di cafĂ© mall, ternyata disana ada piano. Gara-gara omma Eni dan omma Asih sesumbar tentang kehebatan Ivan di depan pemilik restoran, Ivan lalu diminta bermain piano. Orang yang hadir sangat puas mendengarkannya. Manajer restoran malah menyarakan agar Ivan mengikuti konser piano. Karena Vinny menyemangati, tawan itu Ivan penuhi.  Begitu mereka kembali ke meja, ternyata dua omma tadi telah meninggalkan mereka. Rupanya, mereka pamit ke toilet padahal mereka kabur agar Ivan-Vinny bisa berduaan. Hubungan mereka makin akrab. Ketika Vinny mengantar Ivan pulang, hampir terjadi kissing tak disengaja yang membuat Ivan dan Vinny gelagapan. Mereka kini saling tertarik. Namun karena pembawaannya yang introvert, Ivan sulit dalam mengutarakan bahwa ia ingin bertemu Vinny lagi. Saat itu omma Eni datang menolong. Ia lalu menjadi penengah dengan mengutarakan langsung pada Vinny. Vinny dan Ivan kini sepakat dan janjian lagi untuk makan malam keesokan harinya.
            Kedekatan Vinny dan Ivan akhirnya diketahui Beben dan Gendon. Belakangan, Beben yang agak kewanitaan – dengan dibantu Gendon – mendandani Vinny habis-habisan. Ivan terpesona ketika melihat penampilan Vinny saat bertemu untuk makan malam. Malam itu, karena restoran penuh semua, mereka makan di mie tektek gerobakan. Suasana hangat seketika berubah mengkhawatirkan ketika tanpa dinyana hidung Vinny mimisan.

KETERANGAN: Babak II berisi kisah yang merupakan pengembangan Babak I dimana timbul konflik baru yang makin mengharu-biru. Di bagian terakhir babak ini, konflik baru tadi ternyata berkembang menjadi cerita/konflik yang  jauh lebih besar lagi.

BABAK III:

Dalam perjalanan ke rumah sakit, Vinny mengatakan bahwa ia sebetulnya sudah cukup lama mengalami hal seperti itu tapi ia mengabaikan. Saat dibawa ke rumah sakit, dari hasil rontgen, dokter mendiagnosa bahwa Vinny positif terkena kanker otak. Kondisinya sudah semakin parah dan dokter menyatakan bahwa peluang untuk sembuh sudah menipis. Masa hidup Vinny sudah amat singkat dan tinggal menghitung hari. Ivan tidak percaya dan ia lantas mengantar Vinny ke dokter lain. Tapi dokter keduapun menyatakan diagnosa yang sama. Vinny bersedih dan shock. Kendati Ivan menyatakan janjinya untuk terus mendampingi, namun Vinny meminta Ivan tetap menggapai impiannya untuk menyanyi di konser nanti.
            Kondisi buruk Vinny belum juga diketahui orangtua Vinny yang semakin lama semakin sibuk dengan banyak pergi ke luar kota. Sampai pada suatu kesempatan di sekolah, ketika sedang olahraga bersama teman-teman sekelasnya, Vinny malahan pingsan. Beben dan Gendon kemudian mengabari hal ini kepada Ivan. Saat Ivan yang sedang mengajar di kursus musik mendapat kabar bahwa Vinny pingsan, ia lalu buru-buru meninggalkan tempat kursus dan menyusul Vinny ke sekolah. Begitu mereka bertemu menurut Vinny ia tidak separah yang Ivan duga. Tapi Ivan tahu bahwa Vinny berdusta menutup-nutupi keadaannya. Vinny malah mengingatkan Ivan agar terus berlatih musik dalam persiapan menghadapi konser beberapa hari lagi.
            Kondisi Vinny yang telah dirawat di rumah sakit kini telah diketahui beberapa orang dekat, kecuali Endah yang masih saja sibuk menjalankan bisnisnya. Ivan panik dan bersikukuh akan mendampingi Vinny. Tapi Vinny menolak dan malah terus memaksa Ivan agar mengikuti kontes musik yang ia telah daftarkan.
            Penampilan Ivan di konser ternyata sukses. Penonton melakukan standing ovation dan ia langsung mendapat kontrak dari seorang produser rekaman. Dengan hati gembira Ivan pergi ke RS. Ia berlari sambil membawa surat kontrak di lorong-lorong RS. Tapi saat melihat Endah menangis di pintu bangsal, ia shock. Pasti ada sesuatu di kamar dimana Vinny sebelumnya dirawat.

KETERANGAN: Babak III berisi kisah/konflik baru yang makin memuncak dari waktu ke waktu sampai kemudian mencapai klimaks di akhir cerita.
           
            “Bah, bingung aku,” cetus Tumpal. “Ini katanya cerita komedi. Koq akhirnya sedih kayak gini?”
            Sambil tetap ngebaca-baca Devvy nanya. “Knapa musti bingung? Toh di babak 1 dan 2 memang banyak yang bisa diolah unsur komedinya.”
            “Tapi aku masih punya kebingungan lain. Dengan struktur tiga babak, berarti kita harus bagi rata?”
            “Maksudnya, Bang Tumpal?”
            “Kalo jumlah halaman naskah aku adalah 100 halaman, apakah berarti tiap babak nanti akan terdiri dari 33-34 halaman?”
            “Ya nggaaak!” Devvy ngejawab samaan dengan Jepri.
            “Struktur tiga babak bukan berarti tiap babak nanti masing-masing adalah sepertiga dari total halaman. Jumlahnya bisa variatif tergantung kebutuhan. Yang penting nggak ngerusak plot cerita.”
            “Oh gitu? Jadi nggak perlu dibagi rata secara persis ya?”
            “Nggak lah,” Sashi brenti ngebaca dan mulai merhatiin bang Tumpal. “Bang Tumpal tadi nggak nyimak ya? Mikirin apa sih?”

Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran