Langkah#4 Menulis Novel: Sinopsis (1)


Struktur Drama Tiga Babak


            Sehabis break, orang-orang ditugasin nyari-nyari ide selama setengah jam. Abis itu disambung setengah jam lagi dengan bikin Thema. Waktu udah abis sebetulnya. Tapi beberapa orang masih keliatan nulis-nulis. Akibatnya, Q lantas ngasih perpanjangan waktu lima belas menit. Diantara mereka, hanya Jepri yang udah duduk manis karena emang tugas ngebikin sepuluh ide cerita, berikut Thema, baru aja dia selesein.
            “Gimana, susah bikinnya?” pancing Q sambil nyomot lemper. Cemilan mereka sore itu.
            “Relatif. Kalo gue bisa bikin lebih cepet dari yang lain, mungkin karena hari ini pas lagi seneng aja.”
            Q ngangguk. “Nyari ide itu gampang koq sebenernya. Dari ide kita loncat ke Thema. Setelah dapet Thema, kita lantas bisa maju ke tahap berikut. Sinopsis. Tentu aja itu kita lakuin sehabis kita selese nyusun karakter-karakter di cerita kita.”
            Waktu buat ngerjain tugas udah abis. Satu-satu mereka ngumpulin kertas yang lantas ditaruh Q di depannya.
            “Sekarang, kita mau ngembangin Thema yang sebelumnya kita udah liat sama-sama,” Q ngeklak-klik dengan mouse. Nggak lama kemudian, tampilan minggu lalu mengenai Thema dimunculin lagi.

Tentang seorang cewek yang membuka usaha foto instan di mall. Suatu saat ada seorang cowok yang asal masuk saja ke ruang foto yang belakangan diketahui ternyata adalah seorang pencuri yang dikejar-kejar di mall. Yang mengagetkan cewek itu, si cowok ternyata anak orang kaya yang melakukan pencurian karena mencari perhatian orangtuanya yang super sibuk.

“Untuk nama tokoh, tentunya nggak masalah kita bisa cari dimana-mana. Jadi buat cewek pemeran utama gue kasih nama Arleen dan cowoknya Fritz.”
“Namanya nggak kebarat-baratan tuh?” Devvy nyeletuk.
“Tenang aja. Nama bisa kita ubah belakangan. Kalian biasa ngetik pake Microsoft Word kan? Nah, dengan fasilitas yang ada kita hanya tinggal pencet Control + H dengan perintah ‘Replace All’. Dengan serentak kita bisa ganti nama Arleen jadi Butet, Fritz jadi Sugeng. Yang penting – catet baik-baik – pemberian nama tokoh harus unik. Jangan terlalu umum seperti Ali, misalnya. Soalnya kalau nama itu mau diganti dengan nama misalnya, Jack, itu bisa timbul masalah. Saat kita Control + H dengan perintah ‘Replace All’, maka kata-kata yang mengandung huruf A+L+I berturut-turut seperti KALIAN dan SEKALI nanti akan berubah jadi KJACKAN dan SEKJACK. Kacau kan kalo gitu?”
Langsung kedengeran suara oooo panjang.
“Sekarang kita perlu bangun cerita kita dengan tiga hal yaitu latar belakang, konflik dan penyelesaian. Apa nih kira-kira latar belakang Arleen, tokoh utama kita?”
Devvy ngacung. “Arleen itu miskin. Dia buka usaha begitu karena ingin ngebantu ekonomi keluarganya.”
“Bagaimana bisnisnya? Sukses, biasa, atau cenderung menurun?”
“Menurun. Dan itu sering ngebikin cewek itu bosen nunggu-nunggu pelanggan.”
“Bagus. Tapi kenapa harus dia dan bukan anggota keluarga lainnya yang nungguin gerai? Ayo, kasih masukan tentang tokoh yang satu ini.”
“Apakah karena Arleen itu anak tunggal dan tinggal hanya dengan ibunya?” Sashi ngasih masukan.
“Atau punya kakak tapi cuwek kali,” Tumpal nyambung. “Dan umurnya baru 19 tahun.”
“Cakep,” Gemblong nambahin. “Bodinya juga seksi loh.”
“Semua itu bisa jadi masukan. Nah sekarang kita pilih salah satu aja ya. Arleen itu berasal dari keluarga miskin. Anak tunggal dan hanya punya ibu sebagai orangtuanya. Tapi tolong kasih sedikiiit aja gambaran tentang ibunya.”
Giliran Jepri nyaut. “Nama ibunya Rahma. 49 tahun yang hidup dari dana pensiun almarhum suaminya. Saat ini ia bekerja menerima jahitan dari para tetangga.”
Dengan kecepatan ngetik 50 kata semenit, Q langsung nulis di notebook yang kemudian diproyeksi ke dinding.

Arleen, 19 thn,  cantik, didorong faktor kesulitan ekonomi membuka gerai foto instan di mall. Modal sepenuhnya datang dari ibunya, Rahma, 49 tahun, dan dari dana pensiun almarhum ayahnya.

“Cukup,” Q brenti ngetik sejenak. “Data lain jangan ditulis dulu. Tapi simpan informasi itu dalam penentuan karakter nantinya. Nah sekarang, konflik apa yang mau kita cantumkan?”
“Kan udah ditulis,” jawab Devvy. “Bahwa ada seorang cowok yang masuk ke gerai dan namanya adalah Fritz.”
 “OK. Apa lagi?”
Ke-empat orang lain lantas saut-sautan. Masing-masing ngasih masukan cerita. Jepri nyaranin agar perlu ada lomba musik yang kemudian dimenangkan Fritz. Gemblong ngasih masukan supaya Fritz naksir Arleen, tapi Arleen nampik karena hanya menginginkan persahabatan. Tumpal nyambung dengan ngasih usulan bahwa akibat penolakan cinta Arleen, maka Fritz menjadi antipati dan kemudian memamerkan pada Arleen bahwa mudah baginya untuk gonta-ganti cewek. Padahal cewek yang dipamerin adalah adik kandungnya. Sashi sendiri, sebelum pamit keluar buat nerima telpon dari sodaranya, cuma nambahin bahwa dia ingin cerita berakhir dengan perpisahan diantara mereka berdua.
Q nampung semua masukan dan kemudian ngetik hasilnya.


Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran