Posts

Showing posts from April, 2018

Langkah#4 Menulis Novel: Sinopsis (3)

Lebih Detil Dengan Struktur Drama 3 Babak
Bininya Q muncul dan ngasih tau kalo ada telpon masuk buat suaminya. Mengingat orang yang nelpon adalah bapak mertuanya, Q lantas ninggalin ruangan sambil nggak lupa ngasih catetan sebanyak tiga lembar kertas kuarto. “Coba kalian pelajari. Ini adalah Sinopsis yang langsung dibuat dengan struktur drama tiga babak. Babak pertama berisi perkenalan karakter sebagai latar belakang cerita dan titik awal konflik di ending-nya. Babak kedua berisi konflik yang makin memuncak disertai pergesekan. Sedangkan babak ketiga adalah konflik yang makin memanas, mencapai puncak dan berakhirnya konflik.” “Kita cuma baca aja?” tanya Devvy sambil nerima lembaran bagiannya dari Gemblong yang kebagian tugas ngebagi-bagiin. “Baca dan pelajari. Gue kasih waktu sejam.” “Bung mau kemana?” tanya Tumpal penasaran. “Koq lama amat sampe sejam?” “Ada telpon penting.” “Telpon penting sampe sejam?” tanya Tumpal kritis. Q nyengir. Malu. Tumpal yang seumuran dengannya emang nggak gampang…

Langkah#4 Menulis Novel: Sinopsis (2)

STRUKTUR TIGA BABAK
BABAK I: a. LATAR BELAKANG: Arleen, 19 thn,didorong faktor kesulitan ekonomi membuka gerai foto instan di mall. Modal sepenuhnya datang dari ibunya Rahma, 49 tahun, dan dari dana pensiun almarhum ayahnya. Gerai lebih banyak sepi daripada ramainya. Arleen seringkali bosan. Masa penyewaan gerai akan segera berakhir sementara keuntungan masih jauh dari yang mereka harapkan. b. KONFLIK MULAI MUNCUL: Suatu saat, ketika gerai tidak begitu ramai dikunjungi orang, muncul Fritz, 17 thn, yang langsung masuk ke ruang foto. Fritz ternyata bersembunyi dari kejaran satpam mall yang memergokinya melakukan pencurian. Terdorong sikap simpati, Arleen kemudian menolongnya. Hal ini menimbulkan pertemanan di antara mereka berdua. Fritz bukan sekedar bandel. Ia ternyata anak orang kaya. Terdorong sikap simpatik Arleen, ia jadi makin sering mengunjungi dan mereka makin sering bersama-sama. Dengan kekayaannya, Fritz berani membayari kerugian selama gerai foto ditinggalkan demi supaya dapat be…

Langkah#4 Menulis Novel: Sinopsis (1)

Struktur Drama Tiga Babak
Sehabis break, orang-orang ditugasin nyari-nyari ide selama setengah jam. Abis itu disambung setengah jam lagi dengan bikin Thema. Waktu udah abis sebetulnya. Tapi beberapa orang masih keliatan nulis-nulis. Akibatnya, Q lantas ngasih perpanjangan waktu lima belas menit. Diantara mereka, hanya Jepri yang udah duduk manis karena emang tugas ngebikin sepuluh ide cerita, berikut Thema, baru aja dia selesein. “Gimana, susah bikinnya?” pancing Q sambil nyomot lemper. Cemilan mereka sore itu. “Relatif. Kalo gue bisa bikin lebih cepet dari yang lain, mungkin karena hari ini pas lagi seneng aja.” Q ngangguk. “Nyari ide itu gampang koq sebenernya. Dari ide kita loncat ke Thema. Setelah dapet Thema, kita lantas bisa maju ke tahap berikut. Sinopsis. Tentu aja itu kita lakuin sehabis kita selese nyusun karakter-karakter di cerita kita.” Waktu buat ngerjain tugas udah abis. Satu-satu mereka ngumpulin kertas yang lantas ditaruh Q di depannya. “Sekarang, kita mau ngembangin Thema…

Langkah#3 Menulis Novel: Penentuan Karakter (2)

4 Karakter Utama Dalam Sebuah Novel
Menjelang berakhirnya pertemuan, Gemblong udah nyatain kekecewaanya. “Gue nggak yakin nih, apa gue bisa nerusin kursus nulis ini apa nggak.” “Koq baru berapa kali ketemuan udah apatis?” “Abisnya, Jep,” suara Gemblong kesendat, “gue nggak nyangka kalo materi pelajarannya ternyata berat juga.” “Sepertinya elo bisa nangkep semua pelajaran dari awal. Emang bagian mana yang elo nggak ngerti?” Jepri ngehibur. “Yang terakhir, yang tentang 21 sifat manusia itu loh.Si Kreatif lah, si Sehat Alami lah, si Sensitif lah.” “Elo nggak perlu kenal semuanya, Blong. Dua puluh satu sifat itu sebetulnya pengembangan dari empat sifat. Kalo susah ngingetinnya, inget empat yang utama aja. Ada Koleris, Melankolis, Sanguinis sama Plekmatis. Koleris itu buat orang yang suka bertindak cepet dan gak sabaran kayak Devvy. Melankolis itu buat orang yang kalem, gampang sedih, kayak Sashi. Sanguinis itu buat orang yang pembawaannya cool kayak bang Tumpal. Plekmatis itu buat yang klemar-k…

Langkah#3 Menulis Novel: Penentuan Karakter (sambungan)

Langkah Menulis Novel
Penentuan Karakter


Orang-orang mulai pada sibuk nulis waktu Q tiba-tiba muncul lagi. “Sori, tadi ada yang kelupaan gue kasih tau,” katanya. Tumpal dengan Sashi cuma ngeliatin. Nggak ngasih komen apapun. “Anu,” sambil mulai duduk di tempatnya, Q mulai ngejelasin. “Sesudah kalian bikin ide dan sebelum bikin Sinopsis, sebetulnya ada satu step yang musti ada di tengah-tengah yaitu penentuan karakter.” Omongan Q keputus waktu Sashi dengan Tumpal ngangkat tangan. “Ya?” Q ngasih kesempatan Sashi buat nanyain duluan. “Bukannya sehabis nentuin ide dan Thema maka langkah berikutnya adalah ngembangin Thema untuk jadi Sinopsis?” “Betul. Tapi kalo kita nggak nentuin karakter lebih dulu, Sinopsis kita nanti kacau. Bayangin aja kalo si A yang di awal Sinopsis disebut pendiem, ternyata di pertengahan atau akhirnya berubah jadi pecicilan. Si X yang pendidikan S2, belakangan bisa ngeluarin banyolan yang umum disampein di kalangan anak SD. Si Z yang jutek, koq tau-tau bisa berubah baiiii…

E-book v.s. Buku Cetak ; Sudah Sampai Mana?

Sebagai seorang penulis yang berhasil menggolkan beberapa buah buku ke beberapa penerbit, dahulu terkadang saya suka berpikir sampai kapan ebook bisa menggantikan buku cetak/hardcover? Di Indonesia, saya berharap sebagai seorang penulis maka saya bisa menghasilkan karya lebih produktif jika bisa meluncurkan buku dalam bentuk e-book. Saya mencoba dan mencoba dan setelah sekian tahun kemudian menyadari bahwa perkembangan e-book memang sangat lambat, termasuk di Amerika Serikat.

Dilansir dari laman bookmasters.com, e-book yang dahulunya diperkirakan akan melindas buku cetak ternyata kenyataannya tidak seperti yang dibayangkan. Menurut Asosiasi Penerbit Amerika, penjualan buku cetak di tahun 2016 malah naik 3,3% jika dibandingkan di tahun sebelumnya. Hasil sebaliknya justeru dialami e-book yang turun lebih dari 40% jika dibanding dengan tahun 2011. Dari analisa Pew Research Center, hanya 28% warga di negara itu yang membaca e-book. Angka ini jauh ketinggalan dibandingkan pembaca buku ceta…

Masih Pemula? Bagaimana Kalau Jadi Cerpenis Dulu?

Menulis Novel: Jadi Penulis Cerpen Dulu
Saya nggak tahu dengan novelis lain. Bagi saya, langkah pertama untuk menjadi penulis novel yang melulu fiksi adalah menjadi cerpenis lebih dulu. Selain lebih gampang, jika Anda memulai dengan langkah sederhana atau mudah kecenderungannya akan memicu semangat untuk meningkatkan diri ke level yang lebih tinggi.

Seorang calon novelis perlu membiasakan diri dalam menulis apa yang ada di benaknya dan menuangkan sedemikian rupa sehingga materi tulisan tidak membuat kening berkerut. Dan itu butuh praktek dan berkelanjutan dari waktu ke waktu. Ini langkah sangat penting karena kegagalan mendeskripsikan suatu kondisi atau percakapan antara para tokoh, akan membuat penerbit menolak karya tulis seseorang bahkan ketika halaman pertama belum lagi selesai dibaca.

Biasakan diri menulis cerpen. Jika tidak cukup pede untuk mengirimkan ke penerbit, mintalah seseorang yang Anda layak cukup baik untuk menjadi editor. Jika mereka menilai karya itu laik kirim, kir…