Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.


Mungkin itu ide tergila yang pernah Anda dengar. Haaaa? Kurang jago menulis tapi bisa menghasilkan sebuah buku dan bahkan diterbitkan penerbit besar?

Jawaban untuk pertanyaan itu adalah: YA! Mengapa berani saya katakan begitu karena ini adalah pengalaman pribadi saya. Benar, guys. Ini adalah murni PENGALAMAN PRIBADI SAYA dan bukan pengalaman orang lain. Bukan katanya-katanya tapi kenyataan dan buku itu bisa ditemui di BIP Gramedia dan Gramedia.

Yang penting adalah Anda memiliki gagasan dan mengajak orang lain untuk mengerjakan bersama-sama impian menghasilkan sebuah buku. Titik.

Semudah itu? Iyesssss lah..... Sing penting, Anda harus kaya dan kreatif dengan yang namanya gagasan. Bagi saya pribadi, metode begini  juga menarik karena lebih mudah daripada bikin novel Bunaken atau Conchita seperti selama ini saya lakukan.

OK, tanpa mau memperpanjang lebih lanjut yang saya maksudkan di sini adalah membuat buku berupa novel grafis. Mungkin ada juga orang lain yang melakukan dengan cara yang lain tapi sekali lagi ini adalah berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri sehingga rasanya lebih klop untuk menguraikan triknya di sini. Yes, this is my one-hundred-percent experience.

Sekitar Feb. 2016 terbersit ide dalam diri saya ketika tengah ngobrol-ngobrol dengan seorang rekan sehabis ibadah di sebuah gereja. Kami tinggal di dua tempat terpisah. Saya tinggal di Cikarang, sedangkan rekan saya di daerah Jakarta Timur. Pada kesempatan itu saya menyampaikan ide tentang kemungkinan kami berkolaborasi dan menghasilkan sebuah buku dalam bentuk novel grafis. Usulan itu saya lontarkan karena mengenal rekan saya, Dwi Harsono namanya, adalah karikaturis untuk majalah gereja. Saya pikir kenapa kami tidak membuat sebuah buku dimana saya memberikan ide potongan cerita yang terdiri dari 1 sampai 3 halaman, dan kemudian dia yang menggambarnya. Saya pikir tidak sulit untuk saya membuat 30an potongan cerita dan itu bisa menjadi satu buku sendiri. Usulan itu ternyata disetujui oleh Harsono.

Lantas, topik apa yang sedang hot saat itu?

Saat itu, sedang ramai pemberitaan mengenai taksi online seperti Uber, Go Car dan Grab Car. Saya menawarkan ide untuk mengangkat isyu ini karena taksi online memang sedang hangat dibicarakan dimana-mana. Semua media baik media cetak, TV, maupun online membahas isyu ini. Kami pun sepakat untuk membuat sebuah novel grafis bertema pengemudi taksi online.

Dan sejak saat itu terjadi komunikasi intens antara kami berdua. Jarak 40an Kilometer tak lagi jadi masalah bagi kami. Melalui email, WA, SMS, dan telpon tentunya kami saling berdiskusi. Ketika ada sebuah adegan dalam dunia taksi online saya lantas menulis dan kemudian membuat sketsa kasar yang terdiri dari beberapa halaman. Setelah itu sketsa/draf itu saya kirim ke Dwi dan ia mengeksekusi dengan menghasilkan karya ilustrasi kartun yang jauuuh lebih baik. Begitu terus sampai akhirnya kumpulan adegan itu mencapai jumlah sekitar 50% dari rencana jumlah halaman buku. Nah, dengan taktik menulis seperti ini apakah saya perlu mengeluarkan segala daya upaya membuat rangkaian kalimat yang dahsyat selayaknya seorang novelis? Tidak perlu kan? Wong, saya cuma punya ide, dituangkan dalam gambar-gambar acakadut, dan diteruskan ke ilustrator. Itu saja.

Puji Tuhan banget, tak lama kami bisa menghubungi pihak penerbit BIP Gramedia dan menemui langsung di kantornya. Mulanya kami berdua ragu karena karya masih 50% jadi dan masih kasar banget gambarnya. Eh, ternyata pihak penerbit berminat dengan karya kami yang dikategorikan sebagai novel grafis. Untuk itu mereka minta karya kami diteruskan sampai jumlah halaman yang diminta. Selain itu mereka juga memberi usulan tambahan apa yang perlu dikoreksi, dihilangkan dan ditambah. Wah, jadi tahu bahwa kalau untuk kategori novel grafis itu memang sebaiknya tak perlu menyelesaikan sampai akhir.

Cool, isn't it?

Saya dengan Dwi hanya ketemu satu kali lagi menjelang naskah mencapai jumlah 100 halaman lebih sedikit. Kami berdiskusi di Sevel Gunung Sahari dan memelototi laptop untuk mengkritisi apa yang kurang sebelum kemudian rekan saya mengeksekusi terakhir dengan mempercantik gambar-gambar yang ada.

Dan akhirnya di bulan Agustus 2017 karya itu diterbitkan pihak BIP. Ini sekaligus menandai munculnya kembali nama saya di dunia kepenulisan setelah 14 tahunan vakum di dunia kepenulisan. Eaaaa....

So, apa yang kita bisa petik dari peristiwa di atas? Jadi benar bahwa kalau pun Anda tidak memiliki bakat menulis, coba cek siapa tahu Anda memiliki banyak pengalaman-pengalaman menarik. Tak perlu menjadi satu rangkaian cerita yang panjang yang menuntut plot cerita yang rumit. Tak perlu seribet itu, guys! Cukup 30-40 persen saja lho. Potongan-potongan kecil peristiwa itu boleh juga dikumpul-kumpul dan ujung-ujungnya dibuat sebuah novel grafis.

Kalau Anda pekerja di SPBU, pekerja minimarket, pemulung, buruh proyek infrastruktur MRT, LRT, dlsb, waw... kalau dibikin novel grafis pasti keren tuh! Semuanya mungkin dan potensi dikembangkan. Tak perlu buat sampai jadi sebelum kemudian mengirim naskah ke penerbit. Tentu saja dalam hal ini Anda harus menggandeng seolah yang cukup profesional untuk mengeksekusi gambar yang Anda inginkan.

Nah, sekarang mengenai ilustrator.

Sampai di tahap ini mungkin Anda bertanya lagi, lalu bagaimana kalau Anda tidak mendapatkan ilustrator. Jangan takut! Anda bisa mencari tenaga ilustrator di www.project.co.id atau - ini yang saya pernah alami ketika mencari tenaga ilustrator cover - adalah dengan mencari di www.fiverr.com.

Dan kalau pun Anda masih merasa berat dengan biaya yang diminta, cobalah ajak ilustrator Anda dengan bekerja sama yaitu sistim royalti dari penerbit dibagi dua. Artinya Anda tidak usah mengeluarkan dana walau cuma goban (saya mengganti istilah sepeser pun karena seumur-umur belum pernah lihat uang peser!) Cara ini juga ada kelemahannya karena ketika royalti tiba, Anda harus berbagi dengan sang ilustrator. Selain itu, pastikan bahwa ilustrator dan Anda bisa datang untuk ketemu penerbit saat mereka meminta diadakan pertemuan. Kalau Anda tinggal di Palembang dan ilustrator di Bogor tapi ketemu penerbit di Jakarta, yang kasihan kan Anda karena mahal di ongkos. Iya kan? Jadi pastikan bahwa Anda sudah ngeh alias aware mengenai hal yang satu ini.

Apa pun tantangannya, maju terus. Keep up the spirit dan manfaatkan peluang yang ada.

Selamat mencoba!







Cantumkan email untuk berlangganan:


Delivered by FeedBurner

Literature Top Blogs

Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran