A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Sebelum menyimak bab 1 untuk tahu seperti apa sih kelucuan di "A Love Song From Bunaken" saya pikir nggak ada salahnya saya sisipkan satu dialognya yang saya upload ke Youtube.


Nah, kalau ingin tahu agak jauh silahkan simak bab 1 di bawah ini ya.

Cheers!





********


Prannngggg!!!
Sebuah tempat alat-alat tulis berbahan kaleng terbanting ke lantai dan isinya pecah berhamburan. Cukup berisik sebetulnya. Tapi suara bising yang terjadi ternyata tenggelam oleh keriuhan lebih dahsyat yang terjadi ke kelas 11 IPA 1. Suasana di dalam kelas tadi memang sedang super super suuuuper berisik. Penyebabnya gara-gara di jam pelajaran yang tengah kosong itu ada dua orang remaja tengah berulah. Kejar-kejaran.

Ini memang beda dengan kejar-kejaran full romantis versi Galih-Ratna versi jadul, jaman dahulu. Pun beda dengan kejar-kejarannya sepasang artis Bollywood di taman dengan segerombolan penari latar yang bisa muncul sewaktu-waktu di mana saja. Kejar-kejaran yang saat itu berlangsung di dalam kelas sangaaaat beda kelas. Pasalnya, kejar-kejaran itu bukan dilakukan sepasang remaja lain jenis yang sedang dirundung asmara melainkan sepasang cowok yang saling tidak suka. Dan – nah ini yang bikin heboh - kedua remaja tadi berlarian dengan cara lincah melompati meja demi meja sambil disoraki siswa-siswi sekelas sebagai penontonnya!
Ada yang lebih gila dari itu?
Belum semenit yang lalu mereka hanya berlari di lorong-lorong kelas. Kini keduanya melanjutkan acara kejar-kejaran dengan berlari-lari di atas meja. Adalah Royke yang bertindak sebagai pemburu dengan Arjun sebagai pihak yang diburu. Suara anak-anak kelas 2 IPA 1 otomatis terpecah dua yaitu mereka yang mendukung Arjun dan sisanya adalah mereka yang mendukung Royke.
“Ayo Royke! Ayooo....”
“Hebat Arjun. Ayo lari terussss...”
“Ayo tangkep, Royke. Yaelaaaah.... masa’ lolos lagi seeeh?”
Arjuuuun, lari ke pojooook. Awas kejedot dinding! Sayang nanti dindingnya!
Royke masih terus gigih mengejar dengan kelincahan yang terlihat di atas rata-rata. Suasana di dalam kelas semakin riuh, seolah menonton final lari halang rintang versi baru antara dua cowok yang sama-sama jago lari.  Diiringi suara-suara derap kaki di atas meja, tanpa ampun beberapa buah buku, penggaris, pulpen, pinsil milik beberapa siswa jadi ikut terpental dan bahkan terinjak-injak. Buku tulis milik Farel yang tadinya dalam keadaan terbuka dan polos, serta mertas mendapat ‘stempel’ yang sempurna ketika halaman kiri dan kanan buku dijejak bekas sepatu keduanya.
Beberapa siswa yang asyik dengan tontonan “lari di atas meja” tampaknya merelakan ketika alat-alat seperti penggaris, busur, pinsil dan pulpen yang tadi terinjak kini berubah wujud karena patah, pecah, atau tercabik. Bagi mereka nampaknya tak masalah apabila barang-barang itu menjadi rongsokan. Yang penting pertunjukan yang mereka lihat jangan sampai terlewatkan. Isengnya lagi, tiga dari siswa-siswa yang menonton malah membuat taruhan kecil-kecilan. Dua orang lain sibuk merekam dengan kamera ponsel!
Waktu sudah berjalan lebih dari satu menit. Dengan disoraki seluruh kelas, Royke semakin bernafsu melompati meja demi meja untuk mengejar Arjun yang kini mengarah ke depan kelas.
Setelah beberapa saat berlari dari meja satu ke meja lain, pada suatu kesempatan Arjun melompat ke meja di depan meja guru. Tapi, seperti halnya bidak catur rupanya langkah itu adalah bagian dari rencana Royke. Akibatnya Arjun kini terjebak di sudut. Tak bisa berkutik gara-gara Royke menggiringnya ke sudut sana.
“Cukup! Elo menang. Tarzan, elo menang.”
Merasa kalah secara fisik, capek, dan juga puas karena cukup lama mengerjai Royke yang tadi dipanggilnya ‘Tarzan Arjun kini menyerah. Diiringi suara tepuk tangan anak-anak satu kelas, ia melompat turun. Saat menjejak lantai Arjun sadar bahwa ia dituntut untuk gentle dan harus menyerahkan benda yang membuat Royke tadi gigih mengejarnya. Secarik kertas ia keluarkan dari kantong baju. Namun saat hendak menyerahkan kertas di genggaman tangannya mendadak Arjun melempar kertas yang sudah terlipat-lipat itu ke suatu arah. Royke hanya melihati ketika lipatan kertas yang dilempar kemudian ditangkap orang lain. Dessy, kekasih Arjun.
Royke terkejut bercampur sebal atas ulah Arjun yang ternyata masih mengerjainya. Dari atas meja tangannya menuding-nuding Arjun.
“Curang!” teriaknya.
Pintu kelas mendadak berderit menandakan ada seseorang yang baru saja memasuki ruangan kelas.  Arjun kaget dan buru-buru mengambil kertas yang ada di tangan Dessy. Gadis itu juga terkaget. Begitupun siswa-siswa lain. Namun kekagetan paling tinggi dialami oleh Royke. Jantungnya seperti copot saat itu juga ketika melihat The Punisher alias Mak Lampir – demikian julukan anak-anak sekelas – berdiri di sana dan menatap galak ke arahnya.
Ibu Sissy. Wali kelas mereka.

*

Royke yang malang.
Sudah lebih dari setahun ia tinggal dan bersekolah di Jakarta setelah sebelumnya tinggal di sebuah pulau imut bernama Bunaken di seberang kota Manado, ibu kota provinsi Sulawesi Utara. Orangtuanya adalah petani aren yang cukup sukses yang seiring dengan kenaikan harga aren lantas bermaksud menyekolahkan puteranya ke ibukota Jakarta. Tanpa rasa takut berlebih, tawaran itu langsung disambut Royke dengan penuh antusiasme tinggi. Ia memiliki dua dan bahkan tiga alasan mengapa bersikap sedemikian.
Pertama, ada gen avonturir alias petualangan dalam dirinya. Keputusannya untuk berani merantau bukan hal yang dianggap nyeleneh karena mayoritas pemuda di sana memang merupakan perantau.
Kedua, sebagai orangtua yang cukup memahami pentingnya pendidikan mereka berharap Royke tak tertinggal dengan pemuda lain. Baik Royke maupun orangtuanya bermimpi agar sekembalinya ke kampung ia bisa berkontribusi untuk mengembangkan pulau imut kampung halamannya yang hanya seluas 8 KM persegi itu menjadi tempat yang lebih baik.
Dan alasan terakhir sebetulnya merupakan alasan utama.
Ya, Royke sudah muak karena harus bolak-balik dari pulau Bunaken ke kota Manado untuk bersekolah. Sepuluh tahun sudah ia mondar-mandir dan bersekolah mulai dari SD, SMP, dan hingga memasuki kelas 1 SMA.
Latar belakang Royke memang beda dan selain itu tidak ada yang istimewa dari dirinya. Latar belakang ekonominya biasa saja. Miskin sekali jelas tidak, namun ia sangat jauh untuk bisa disebut kaya. Si Bopung, alias bocah kampung, yang sudah tak berayah ini di beberapa hari pertama sudah lazim dipanggil ‘Tarzan’ karena ulahnya yang memang ‘katro’ alias kampungan sekali.
Royke memiliki kebiasaan-kebiasaan yang terbawa-bawa dari kampung halamannya yang tak lagi lazim ketika diterapkan di kota besar seperti Jakarta. Untunglah kebiasaan kampungannya semakin berangsung menghilang. Tak ada lagi kejadian Royke mengangkat satu kaki di bangku ketika menikmati santap siang di kantin. Atau menyanyi keras-keras lagu-lagu daerah ketika mengerjakan sesuatu. Pun tak lagi terdengar kabar kebiasannya meninggalkan sepatu di depan pintu sebelum memasuki kelas!
Tak cuma itu. Ia dengan cepat jadi korban bullying alias pelecehan baik secara fisik maupun verbal. Mencoba berbahasa sehari-hari alias gaul yang dikombinasi dengan kemampuan berbahasa Indonesianya yang parah membuat Royke malah semakin menjadi bahan olok-olokan.
Terakhir, ia juga dinilai memiliki prinsip-prinsip hidup yang tak sejalan dengan era 2010 saat itu. Tak suka mencontek atau dicontek, tak pernah mau diajak ke cafĂ© atau pesta, tak pernah suka pula menonton klip-klip berformat 3GP yang aneh-aneh dari handphone – sesuatu yang makin dianggap jamak bagi siswa-siswa di sana.
Dengan semua keanehan yang bertubi-tubi itu, sempat muncul teori mengapa Royke bisa menjadi berbeda dibandingkan yang lain. Dan salah satu teori terkejam adalah bahwa ia pernah setahun dirawat di kerajaan kera gara-gara terpisah dari orangtuanya saat masih bocah!
Gila memang.
Berpikir bahwa pergaulan dengan Si Tarzan tidak akan ‘nyambung’, tidak mendapatkan manfaat, dan bahkan merugikan, Royke dengan cepat menjadi anak yang populer dengan ketidakpopulerannya. Dengan cepat pula Royke terkucil – kalau tidak mau dikatakan dijauhi. Nyaris tak ada siswa sekelas yang mengajaknya bergaul, mengobrol, apalagi berdiskusi soal pelajaran. Bullying secara verbal maupun kecil-kecilan – seperti menghilangkan, mencuri, atau menyembunyikan kepunyaannya – segera menjadi santapannya tiap hari.
Setahun pertama benar-benar merupakan penderitaan berat baginya. Sekeras apa pun ia berusaha, semua keterbatasan tadi tak mudah ia hilangkan. Makin sering ia dicap bopung, katro, Tarzan. Walau banyak yang mengakui bahwa Royke adalah siswa yang layak jadi nominator sebagai siswa paling santun segedung sekolah, tetap tak banyak yang mau menemaninya. Kalau pun ada teman yang selalu setia menemaninya di jam istirahat, itu hanya dilakukan oleh satu individu saja.
Paw-paw.

Itu adalah nama seekor anak anjing kampung yang selama dua bulan terakhir ini dipelihara oleh ibu pengelola kantin, Ibu Meiske. Senasib seperti dirinya, anjing itu pun tidak memiliki kawan. Diambil dari tengah jalan dalam keadaan lecet-lecet dan kurus-kering karena kelaparan yang parah, tidak ada yang melirik dan berbelaskasihan pada makhluk itu. Anjing kampung itu belakangan dinamai Paw-paw oleh Royke dan kemudian menjadi teman baiknya sejak pertama kali mereka bertemu.
Seiring berjalannya waktu lama-kelamaan Royke pun mengubah sikap dengan tidak mau ambil pusing. Ia jadi cenderung pendiam. Melakukan tugas sendiri tak lagi ia anggap menyedihkan. Tak memiliki banyak teman tak membuatnya larut dalam duka. Ia akhirnya malah menikmati keterkucilannya karena dengan sedikitnya bersosialisasi hal itu membuat dirinya memiliki lebih banyak waktu untuk belajar lebih giat demi mengejar ketertinggalannya.
Sifat gigih, yang umum melebur pada darah seorang perantau, terpampang dalam karya nyatanya sehari-hari.
Dan kegigihannya belajar memang membuahkan hasil. Kendati tidak mencapai level siswa terpintar atau terjago, mata pelajaran utama dalam waktu tiga-empat bulan dengan cepat ia kuasai.  Secara perlahan stigma dirinya sebagai siswa kampung yang bodoh pun mulai memudar karena ia juga suka dan siap mempelajari hal-hal baru. Sadar bahwa ilmu-ilmu praktis akan membantunya ketika kembali ke kampung halaman, Royke mempelajari apa yang dipandang sebelah mata oleh siswa lainnya seperti merancang panel surya, membuat aquaponik, hingga desain grafis.
Tak hanya itu Royke ternyata jago di dua pelajaran ekskul yaitu renang dan musik gitar. Dua hal itu rupanya sudah menjadi bakatnya dan sudah lama pula ia kuasai karena terpicu kondisi geografis di kampungnya yang amat lekat dengan alam dan kental pula dengan budaya musik dan menyanyi.
Dan itu belum semua
Yang mengalami improvement alias meningkat ternyata tak hanya intelektualitas dan talentanya. Paparan gelombang energi dan radiasi sinar matahari selama setahun terakhir intensitasnya sepertinya terdistorsi sedemikian rupa di lapisan Ozon pada atmosfir di atas langit Jakarta. Terpicu fenomena alam La-Nina, paparan panas gelombang berintensitas ultra violet tadi jatuh ke permukaan epidermis wajah Royke sehingga berefek pada pengkoksidasian yang cenderung bergerak ke kwadran yang lebih positif.
Dalam bahasa sehari-hari: wajah Royke sekarang lebih ganteng.
Betul sekali, wajah Royke masih di bawah Arjun atau Nathan. Namun sebuah momen ketika ia didaulat paksa untuk tampil langsung di ajang Creative Event sekolah mengubah segalanya. Penampilan dahsyat Royke dengan gitar akustik pinjaman dari Arjun – yang belakangan disesali Arjun luar biasa – mulai membuka mata banyak orang mengenai keistimewaan bocah kampung ini.
Tak selang dua bulan terjadi peristiwa lain ketika seluruh siswa kelas 11 IPA dan IPS mengadakan acara live-in di Yogya. Acara tinggal di pedesaan yang seharusnya seru berubah menakutkan ketika siswa-siswinya banyak yang kerasukan. Uniknya, Royke bukan cuma tak terkena hal yang sama. Ia justeru jadi orang yang banyak membantu ketika rekan-rekannya disadarkan kembali.
Dua peristiwa di ujung satu tahun keberadaannya di sekolah ini membuat Royke mulai mendapat semakin banyak pertemanan. Pada akhirnya keluguan dan kejanggalan Royke dalam berbicara dan bertingkahlaku  malah mulai dianggap sebagai keunikan tersendiri alias tak lagi dianggap sebagai tabiat yang harus dijauhi.
Royke mulai mencuri perhatian dari banyak orang.

*
  
Shit!
Pekik yang keluar dari mulut Dessy itu mengagetkan Royke. Dessy mendelik marah pada Royke yang saat itu sedang membawa ember yang penuh berisi air.
“Elo ngerjain gue ya?”
Royke menggeleng cepat.
Dessy yang tak percaya kembali berteriak. “Bohong! Matanya di mana sih? Elo sengaja numpahin air di ember ke gue kan? Hayo ngaku.”
Royke kembali menggeleng. “Kita bawa ember tujuannya for, eh… untuk membersihinkan meja di kelas.”
“Ngomong aja gak becus,” ucapan Dessy terdengar ketus. “Elo mau bersihin meja gara-gara elo tadi lari-lari di atasnya kan? Elo dendam sama Arjun tapi kenapa sepatu gue yang disirem?”
“Nyanda sengaja kita.”
“Nggak sengaja? Ah, tukang bo’ong! Elo sengaja bikin supaya kita senggolan di muka pintu, abis itu elo numpahin air ke gue. Gitu kan? Teknik basi!”
“Tadi kita so masuk duluan tapi kamu memaksa untuk menyusul. Akibatnya jadi begini. Kitorang baku senggol dan air di ember jadi tumpah sedikit ke kamu.”
“Sedikit?” Dessy makin meradang. “Pale lu peyang!”
Royke tak mengerti istilah yang terakhir diucapkan. Tapi melihat mimik muka gadis cantik tapi judes minta ampun seperti tadi, jelaslah bahwa itu pasti istilah yang bertendensi merendahkan. Ugh. Royke yang capek meladeni omelan Dessy lantas masuk ke dalam kelas dan langsung membersihkan meja pertama yang kotor karena bekas injakan-injakan sepatu. Dessy sendiri tidak jadi masuk dan memilih untuk duduk di salah satu bangku panjang di koridor. Ia mengeluarkan sebungkus kertas tissue dari kantong roknya dan mulai mengeringkan rok dan sepatunya yang tadi sempat tersiram.
Saat merasa sudah agak kering, Dessy bangkit dari bangku. Ketika hendak memasuki kelas, ia baru tersadar bahwa ada Monique di dekat pintu yang tengah melihati sesuatu di dalam kelas.
“Ngintip siapa lu?”
Si Bopung, jawab Monique setelah sedetik melihat ke arah Dessy. “Kesian dia.”
 “Kesian ‘napa?”
Dengan buku yang kebetulan dibawa, Monique menunjuk ke suatu arah. Dessy mengikuti arah yang dimaksud. Mata cenderung sipit bak elang miliknya segera menangkap bayangan Royke yang tengah membersihkan permukaan salah satu meja dengan lap. Selepas membersihkan satu meja, ia mencelup lap ke ember penuh busa yang ia letakkan di lantai lalu membersihkan meja lainnya.
Sukurin! Bu Sissy ngedisiplin dia dengan cara ngebersihin meja sekelas.Suara Dessy terdengar gemas. “Ada bagusnya sih. Dia kan sering didisiplin dengan cara ngehormat bendera. Nah kali ini boleh dong caranya agak beda sendiri.”
Monique menoleh. “Elo gak kesian liat dia, Sy?”
Please deh.” Pertanyaan itu dijawab dengan intonasi Dessy yang meninggi. Nggak tuh. Dia tadi ngerjain gue. Sepatu gue kesirem air dari embernya itu gara-gara senggolan di pintu.”
“Dia nggak sengaja kali,” cetus Monique sembari mengebas dengan bukunya.
“Gak mungkin. Tuh anak tampangnya mungkin rada innocent. Tapi hatinya busuk.”
Monique melihati Dessy dengan tatap menyelidik. “Si bopung bikin dosa apaan lagi?”
“Minggu lalu gue hampir kelelep gara-gara mendadak dia nyebur di deket gue. Gue yang belum lancar berenang jadi panik. Untung gue bisa buru-buru pegangan ke pinggir kolam.”
Monique merenung sesaat. “OK. Tapi buat yang kasus hari ini, kan yang cari gara-gara Si Arjun, cowok elo. Hasil ulangan Biologinya Si Royke disamber Si Arjun buat liat-liat isinya. Kalo digituin dan Si Royke jadi jengkel, gue bilang sih wajar.
Dessy diam.
Elo udah tanya ke Arjun kenapa sampe kepo kayak gitu sih?”
Pertanyaan itu tak disangka malah dijawab Dessy dengan diawali tawa kecil. “Udah.”
Monique kini terheran. “Kenapa ketawa?”
Sambil tersenyum-senyum, Dessy menggamit lengan Monique untuk sedikit menjauh. “Si Royke emang bopung banget. Bener-bener katro’ abis. Kampungan. Tulalit lagi!”
“Katro’ kenapa? Tulalit kenapa?”
Di tengah senyum-senyum kecilnya Dessy mengambil ancang-ancang untuk berbicara. Monique sendiri menyimak karena sepertinya akan ada cerita menarik.
“Begini… waktu tadi pagi itu kan dibagiin hasil ulangan Biologi dua hari lalu,” Dessy mulai bercerita. “Nah, Si Arjun sempat liat kertas ulangan Si Royke secara sekilas. Tapi dia jadi kepo, penasaran, soalnya di lembar jawaban Si Bopung koq ada gambar kartun segala.”
“Gambar kartun?”
“Arjun buru-buru nyamber kertas ulangan itu. Nah dari situ baru dia ngeh kenapa Si Bopung bisa ngegambar kartun segala. Tau nggak, gambar itu rupanya jawaban essay Si Bopung dari pertanyaan terakhir.  Mungkin gara-gara sebel karena Ibu Sissy sentiment melulu sama dia, Si Bopung ngejawabnya asal aja.” Ucapan Dessy terhenti sejenak. “Elo masih inget pertanyaan terakhir ulangan Biologi dua hari lalu?”
“Inget lah,” Monique mengangguk tegas. “Pertanyaannya kan supaya digambarkan perjalanan ovum alias sel telur dari Ovarium ke Tube Falopi.”
“Naaah karena pertanyaannya minta digambarkan, eh tau gak, Si Bopung itu malah bener-bener menggambar kayak anak TK ikut lomba mewarnai.”
“Haaaah? Plis don du dis et hom.”
“Emang iya. Tapi gue duga dia iseng gitu karena gak suka sama Ibu Sissy. Mangkelnya udah sampe ke ubun-ubun. Buktinya, semua soal lain yang dijawab serius ternyata betul semua.”
“Dia gambar gimana sih?”
Tanpa diminta Dessy langsung menyambar buku di tangan Monique dan pulpen di saku bajunya sendiri. Ia lantas menggambar sesuatu di halaman belakang buku.
“Ovum-nya digambar seperti telor ayam dengan dua kaki. Posisinya sedang jalan santai kaya’ gini,” Monique melihati ketika Dessy menggambar telur berkaki di atas kertas. “Di cangkangnya ditulis ‘Ovum.’ Gitu.”
Monique terperanjat. “Ebuset. Terus?”
“Udah gitu digambar lagi dua papan petunjuk,” Dessy kembali menggambar. “Yang satu ngarah ke belakang ovum dengan tulisan Ovarium. Yang satu ngarah ke depan ovum dengan tulisan Tube Falopi.”
“Ya olohhhh,” Monique melotot dan takjub melihat rekayasa gambar bikinan Dessy yang terpampang di depannya. “Jadi begini nih gambaran perjalanan ovum dari Ovarium ke Tube Falopi versi bocah kampung itu?!”

*

Sudah hampir seminggu ini Kadir tidak bekerja. Pengemudi ini yang ditunjuk khusus untuk mengantar dan menjemput Dessy tengah pulang kampung untuk mengurus anaknya yang sakit. Dan selama ketidakhadiran orang itu, Dessy pergi dan pulang sekolah dengan menumpang taksi. Itu awalnya. Belakangan karena merasa kurang aman ia berubah pikiran dan memutuskan untuk ikut mobil khusus antar jemput siswa sekolah. Dessy berharap pria yang sudah belasan tahun mengemudi itu bisa kembali dalam beberapa hari ke depan agar ia tidak terlalu lama ikut mobil antar-jemput sekolah. Menaiki mobil semacam itu baginya memang terasa kurang nyaman karena ini artinya dia harus bersama-sama siswa lain ketika diantar maupun dijemput.
Sebetulnya ada alternatif lain. Arjun sebagai kekasihnya sangat siap untuk mengantar atau menjemput. Masalahnya, mobil kabin-ganda berpenggerak empat roda miliknya tengah dirawat di bengkel gara-gara ia mengalami kecelakaan yang melekukkan kap depan saat Arjun kebut-kebutan dengan sebuah angkutan kota. Dessy tak bisa membayangkan hal itu - kebut-kebutan dengan sebuah kendaraan angkot. Efeknya adalah kendaraan Arjun kemudian harus menginap seminggu lebih di bengkel langganan mereka.
Menaiki mobil antar-jemput memang menjadi pilihan paling realistis bagi Dessy. Setidaknya untuk hari ini. Mobil yang disediakan sebetulnya lumayan bagus. Tapi karena digunakan ramai-ramai mau tak mau ia harus menunggu sampai seluruh siswa hadir. Merasa tak nyaman atas suasana yang mulai gerah, Dessy membuka pintu di samping tempat duduknya. Caranya membuka pintu yang mendadak menimbulkan teriakan kecil dari seseorang yang rupanya ada di samping mobil.
Dessy menoleh ke sumber suara dan menemukan Royke tengah menatapnya sambil meringis memegangi lengan kanannya. Gadis itu langsung menyadari apa yang baru saja terjadi.
“Ups sori. Kena ya?” Dessy buru-buru meminta maaf.
Permintaan maafnya tulus. Namun Royke menanggapi dengan dingin.
Royke selama ini dikenal tidak banyak berbicara. Sikap itu juga ia tunjukkan kali ini. Bedanya, Dessy bisa melihat bahwa kali ini ada amarah tersirat dari wajah innocent dan pendiamnya. Seketika Dessy sadar. Royke tadi siang baru saja sukses dikerjai oleh Arjun yang selama ini memang sangat getol mempermainkannya. Sesabar apa pun Royke, Si Bopung itu pasti jengkel juga. Ketidaksukaannya pasti bertumbuh seiring masifnya Arjun mengerjai Royke. Dengan status sebagai kekasih Arjun, tidak sulit untuk menduga bahwa Royke juga pasti tidak menyukainya.
Ia sudah mau menyapa Royke dengan menyatakan maaf sebetulnya. Tapi begitu melihat Dessy sudah berada di bangku tengah mobil yang akan ia naiki, Royke langsung membalik badan dan mencari-cari Ibu Tanti.
Ibu Tanti adalah orang yang mengkoordinir dan sekaligus pemilik lima mobil MPV alias Multi Purpose Vehicle, yang dipakai untuk antar jemput siswa-siswi baik SD, SMP, maupun SMA di sana. Penyuka berat tayangan Mamah Dedeh itu belakangan ini malah latah dan lebih suka dipanggil Mamah di depan namanya. Uniknya, demi mempercepat sosialisasi nama barunya, beliau malah berani memberi potongan harga buat siswa pengguna antar-jemput yang memanggilnya dengan sebutan baru tadi. Semua siswa.
Kecuali Royke yang tak tertarik dengan diskon yang dinilainya tak seberapa.
“Ada apa?” tanya wanita itu saat melihat Royke melangkah ke arahnya.
Tante Tanti, kita nanti naik mobil apakah?” tanyanya culun. Seperti biasa.
“Kita?”
Dalam bahasa daerahnya, ‘kita’ memang artinya adalah orang pertama tunggal ‘aku.’
“Maksudnya: aku nanti naik mobil apakah?
“Mobil nomor 2. Warna biru. Tuh, di bawah pohon sawit.”
Royke langsung lemas. Mobil nomor 2 adalah kendaraan tadi dimana tadi Dessy – sama seperti Arjun – sukses mengusili dirinya. Ia benar-benar tak habis pikir bagaimana sepasang sjoli bisa kompak menjahati dirinya padahal ia sendiri tak pernah menjahati mereka. Begitu membutakankah cinta sampai apa yang dibenci oleh salah seorang dari mereka akan juga dibenci pasangannya?
Sebetulnya Royke lebih suka naik kendaraan umum, seperti yang ia lakukan saat berangkat di pagi hari. Tapi, atas saran Mamanya, ia sudah terlanjur membayar uang muka untuk mengikuti mobil antar-jemput khusus saat pulang sekolah.
Oto berikut, eh… mobil berikutnya kapan, Tante?”
“Yang next trip? Jam 5.00!” jawabnya ketus karena masih tak suka dirinya tidak dipanggil ‘Mamah’ oleh pemuda itu. Memangnya kamu mau ikut di mobil yang pulang jam segitu?”
Royke mengangkat bahu. “Nyanda lah.”
Nggak kan? Nah kalau begitu kamu naik yang jalan jam 2.30 aja. Naik mobil Mamah yang nomor 2 itu.”
“Menyebalin, Royke menghembus nafas keras. “Eh, menyebalkan!”
“Lho, kenapa menyebalkan?” Mamah Tanti memain-mainkan retsleting tas pinggangnya. Tempat dimana ia menyimpan uang, ponsel, buku catatan, tiket tol, tiket parkir, berkaitan dengan usaha antar jemputnya.
Tak segera mendapat jawaban, ia lantas mengulang. “Kenapa? Kamu nggak tahu ya kalo Dessy sekarang ada di mobil itu?”
“Tahu,” jawabnya dengan ‘h’ yang terlalu jelas terdengar. “Justeru itu yang membuat aku nyanda mau, Tante. Dessy itu menyebalpun.”
“Menyebalkan, Mamah Tanti lagi-lagi mengoreksi.
Iyo, itu maksud kita tadi. Menyebalkan.”
Ucapan Royke membuat Mamah Tanti terkesima. “Ya ampun kamu tuh kampungan banget sih? Ada gadis cakep bukannya kamu manfaatin buat kenalan. Eh, koq malah musuhan? Mamah jadi heran deh.”
“Dia cantik tapi jahat, Tante.”
“Dia memang keliatan jutek tapi dia sebetulnya baik hati. Ramah. Nggak pelit. Mamah tahu sendiri,” katanya meniru ucapan khas idolanya.
“O ya?”
“Kalau Tante bantu supaya kamu jadian sama dia, berani bayar Tante berapa?”
“Dia kan pacar Arjun. Kalau dengan kita… ah.. nyanda mau kita.”
“Kalo sama janda, mau nggak?” tanyanya ganjen.
Royke mengerenyit kening. “Janda? Umur berapa, Tante?”
“Anu, di bawah … lima puluh,” jawab Mamah Tanti dengan mata berbinar seolah melihat sebuah harapan terbentang di depan mata sehingga buru-buru menyambung ucapannya. “Anaknya ada satu, cowok, seumuran sama kamu. Tapi, denger dulu, dia punya banyak mobil lho. Iya, mobil anter jemput sekolah ini. Ada lima semuanya. Cocok tuh untuk kamu… “
Sadar bahwa yang dimaksud adalah diri Si Tante sendiri, Roy melangkah pergi.
“Tante cuma becanda lageeee. Hey! Hey, mau ke mana kamu? Jadi kamu ikut mobil yang mana?”
Royke mengacungkan jari tengah. Namun sedetik kemudian jari telunjuknya ikut diacungkan.
“Tetep di nomor dua? Ya udah, kamu tungguin di dalam mobil yah! Sabar.”
Sabar? Royke geram. Ia tak yakin akan seberapa jauh kesabarannya ketika harus bertemu terus dengan Dessy!
Ketika sudah masuk ke dalam kabin kendaraan, sempat terjadi kontak mata antara keduanya. Sayang itu berlangsung hanya sepersekian detik karena setelah itu Royke langsung membuang muka dengan mimik sebal.
Dessy yang melihat sikap Royke seperti itu jadi merasa terlecehkan. Perasaannya yang tadi ingin memperbaiki hubungan dengan Royke jadi sirna seketika. Berganti rasa yang sama seperti yang Royke miliki saat itu.
Perasaan sebal.

*

Jam dinding baru berdenting tujuh kali ketika Dessy turun dari kamarnya di lantai dua. Di bawah tangga, Ibu Dessy melihati puterinya dengan mata membelalak.
What, Mom?
“Kamu mau pergi?”
“Iya,” jawabnya setiba di lantai dasar. “Temen Dessy udah nunggu di depan rumah tuh.”
Wanita itu terdiam beberapa saat. “Mmm, cuma koq baju kamu koq makin kebuka-buka? Kamu nggak takut jadi masuk angin atau...”
“Risih?” tukas Dessy cepat.
Dan sebelum ia berujar lebih lanjut, Dessy sudah langsung nyerocos. “Mama koq masih gitu seeeeh. Mama sering ke mal, sering ikut resepsi nikah, acara ini-itu. Masa’ masih belum ngeh mana pakaian yang lagi nge-trend atau bukan? Atau Mama inginnya Dessy pake konde sama kebaya?”
“Nggak segitunya lah. Kamu boleh pergi dengan pakaian  yang kamu suka. Tapppiii,” katanya ragu, “mama nilai... hot pant kamu kependekan. Terus, kenapa suka banget pake kaos tanpa lengan sih?”
“Apa salahnya?” tanya Dessy dengan intonasi datar sembari menghempas tubuh di sofa.
Sang mama terdiam dan segera sadar bahwa percuma bersikukuh agar puterinya mengikuti kemauannya. Dessy bangkit dan mendekat hingga persis di depan wanita itu.
“Nggak ada yang salah kan?”
Tanpa menjawab wanita separuh baya itu malah mengajukan pertanyaan. Kamu mau dinner? Sama siapa?”
“Sama Monique.”
“Cuma Monique aja, nak?”
“Aurel ikut. Fitri sama Andien juga.”                                                                                      
Ibu Dessy mengangguk-angguk.
“Diijinin pergi apa nggak nih?”
Sesosok lain tiba-tiba muncul di ruang yang sama. “Pasti diijinin dong. Masa’ anak Papa dilarang bergaul.”
Keduanya menoleh ke sumber suara. Ke arah dimana seorang pria empat puluhan tahun mendekati mereka berdua dan duduk di sandaran sofa kedua.
“Papa nggak ngelarang kamu pergi makan malam. Dan Papa yakin, Mama juga begitu. Kami percaya kamu bisa jaga diri,” ucapnya tenang. “Kamu dan teman-teman mau kemana sih?”
“Makan malamnya di mall Senayan. Sekalian mau ganti ponsel.”
“Terus? Sehabis itu kamu langsung pulang?”
“Mama ini! Nggak suka Dessy ngabisin waktu sama temen-temen ya? Kami rencananya sehabis dinner itu mau ke eXist ‘bentar. Gak lama koq. Paling sejam hangout-nya.”
“Dugem?” Ibu Dessy menanggapi dengan ekstra hati-hati. “Minggu lalu kamu janji hangout atau dugem sejam, nyatanya tiga jam lho.”
Melihat Dessy terlihat mulai marah, ayah Dessy buru-buru berkomentar menyampaikan tanggapannya. “Sudahlah, Ma. Biarin aja.”
“Tapi Dessy dijemput ke sekolah pagi-pagi benar lho, Pa. Jangan gara-gara pulang kemalaman Dessy jadi bangun kesiangan dan tidak siap waktu dijemput.”
Dessy menggeleng. “Besok pagi Dessy dijemput sama Monique. Dia bawa mobil sendiri.”
“Kamu nggak ikut mobil antar jemput?”
“Cuma untuk beberapa hari aja soanya ada orang yang jadi biang kerok,” jawabnya kesal. “Jadi gimana? Diijinin apa nggak nih hangout-nya?”
Papa sih nggak keberatan.”
Mata Dessy berbinar.
“Yang penting...”
Ibu Dessy mendengar dengan seksama ucapan yang terputus tadi. Ia berharap ada resistensi dari suaminya untuk mencegah Dessy pergi malam itu. Tapi harapannya sia-sia ketika mendengar kelanjutan ucapan ternyata tak seperti yang ia harapkan.
“Yang penting uang jajan kamu masih cukup. Uang yang Papa kasih tiga hari lalu masih nyisa?”
“Masih banget, Pa.”
Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah. Dessy dengan lincah mencium pipi kiri dan kanan kedua orangtuanya sebelum kemudian melangkah pergi ke arah teras sambil meraih tas Channel miliknya. Saat tubuh puterinya hilang di balik pintu, pikirannya sesaat menerawang.
Tak ada yang tahu apa yang sesungguhnya bergulat dalam pemikiran sang ibu. Saat menatap kepergian puterinya, dalam keheningan nuraninya sebetulnya tengah berteriak. Memberikan peringatan bahwa ia dan suaminya telah gagal menanamkan nilai-nilai kepantasan yang pernah ia junjung dahulu saat seumur puterinya. Dibombardir nyaris tanpa henti oleh arus informasi yang mayoritas patut dipertanyakan kepatutannya, ia melihat perubahan perangai puterinya. Saat masa kekanakan dengan berbagai dunia boneka telah Dessy tinggalkan, tantangan berikutnya yakni masa pencarian diri sebagai remaja menjelang sudah.
Di sini, di tahun 2010, Internet, gawai, ponsel 3G mungkin membuat seseorang semakin mudah berkomunikasi. Namun di lain pihak ia juga mencipta gap yang menganga makin lebar. Membuat jarak yang, dalam kasus Dessy, membuat gadis itu semakin asyik tenggelam dalam dunia yang dibuatnya sendiri. Membuatnya melupakan bahwa kedua orangtuanya masih sangat rindu untuk mereka bertiga merenda waktu dalam kebersamaan.
   Ditimpali perbaikan kehidupan ekonomi akibat keberhasilan bisnis yang dikelola suami dan dirinya, Dessy perlahan namun pasti bertumbuh menjadi gadis yang berbeda dari yang ia harapkan. Ia cerdas, luwes bergaul, dan memiliki banyak kelebihan fisik. Namun, ia menilai Dessy mengkhawatirkan.
Perilaku darah-dagingnya itu sudah mulai sulit untuk dikendalikan. Seiring dengan perkembangan hormon remajanya yang bergolak, sebagai ibu ia kini kerap merasa jengah. Jengah melihat cara Dessy dan teman-teman sekolahnya berbusana. Pakaian serba ketat dan terbuka seolah menjadi menu di tiap latihan. Ia jengah pula melihat materi pembicaraan puterinya yang tak jauh dari soal lawan jenis, selebriti, mode. Tak terbendung pula nilai-nilai yang tersisip dalam film-film yang ia tonton. Nilai-nilai liberal, hedonis, pemberontakan terhadap kemapanan menjadi jargon tiap hari. Tersaji dalam berbagai rupa termasuk media sosial, musik, film, aplikasi, dan aneka produk internet lain yang makin gencar merasuk melalui laptop maupun ponsel puterinya.  
Dulu ia percaya bahwa sikap itu hanya akan berlangsung sementara yang terjadi semata-mata karena perubahan hormon. Itu sebabnya ia hampir-hampir tidak pernah mendisiplin Dessy – senakal apa pun anak itu berulah. Ia berharap waktunya tiba ketika Dessy menjadi puteri yang taat pada orangtua, santun, berani memikul tanggungjawab.
Tapi setelah satu dekade berlangsung ia kecewa perubahan semacam itu tak juga terjadi. Ia merenung lebih jauh. Mungkinkah ia harus menunggu lebih lama lagi? Atau jangan-jangan situasi sudah nyaris terlambat dan terlalu sulit berubah?

*

Sebuah mobil kategori citycar meluncur deras membelah kabut pagi yang masih pekat mendominasi sebuah jalan kompleks perumahan. Mesinnya menderum pelan menjelang tiba di sebuah persimpangan. Sesaat setelah berbelok dan berada di jalan raya, mesin mobil sedikit bergemuruh ketika dipacu pada kecepatan yang lebih tinggi. Decit suara ban membahana di tengah suasana yang masih agak sepi.
“Woy, mau ngebut nih?” Dessy memprotes pada Monique yang menyetir.
Sambil memasukkan tuas persneling, Monique melingkarkan mata. “Hadeuhhh, lari 70 aja dibilang cepet. Gimana kalo nanti gue tancep lari kecepatan 120 di boulevard.”
“Ebuset. Jangan sembarangan lu ya. Gue gak mau mati konyol.”
“Nebeng aja bawel lu ah,” Monique gemas.
“Biar pun nebeng, kan gue yang katanya nanti bayarin bensin. Mana elo mintanya Pertamax lagi!”
Monique tersadar dan spontan terkikik, diikuti Dessy. Mobil kemudian berjalan dengan kecepatan normal dan mereka berdua memperbincangkan beberapa hal selama setengah jam berikutnya.
Tak jauh dari tempat itu, di sebuah halte bis Trans Jakarta, dua orang pria keluar dari sebuah bis yang berhenti persis di samping pintu halte. Salah seorang diantara mereka duduk di atas kursi roda dan didorong orang kedua. Baru saja tiba di halte, sebuah dering telpon terdengar cukup kencang dari balik celana pria yang yang mendorong kursi roda.
“Sebentar ya, Mas.”
Pria yang duduk di atas kursi roda menyilahkan. Si pria penolong, Royke, menyingkir sedikit menjauhi rekannya demi mendapat sinyal komunikasi yang lebih baik.
Saat menerima telpon itulah, dalam antrian lalu lintas yang terhenti karena lampu lalu lintas menyala merah, sebuah mobil berhenti tak jauh dari halte. Di dalam kabin mobil, Dessy yang memperbarui status Facebook di ponselnya mendadak dicolek Monique.
“Lah, itu Si Tarzan ngapain di sono?”
Serentak Dessy arah pandangan Monique. Benar saja, ia melihat Royke yang tengah menelpon dengan ponsel miliknya.
“Itu anak katro bener sih.”
Monique tak segera menjawab. Dessy masih terus melihati Royke yang masih menelpon di halte. “Sekolah kan masih dua kilometer lagi. Kenapa tuh bocah turun di halte Jamblang? Kalo dia turun di halte berikutnya, di halte Sawo, kan dia cuma perlu jalan sedikit. Iya nggak, Mon?
Bener juga,” kening Monique mengerenyit. “Dua minggu lalu gue juga liat tu anak turun di halte ini. Kalo keulang lagi, masa’ gak ngerti-ngerti sih kalo turun di sini bakal lebih jauh jalannya ke sekolah?”
“Nggak heran lah, Mon. Tuh anak juga begonya over dosis, tau? Jadi sering amnesia ketika udah nggak lagi di habitatnya di hutan,” jawabnya sarkastis. “Apa elo pernah denger kalo dia pernah gak naik kelas?
“Waktu di SD kan? Iya, gue tau sendiri dari Farel. Tapi di UTS terakhir Kimia dan Biologi dia dapet 8.”
 “Paling itu cuma kebetulan.”
Jalan raya kembali lancar. Sambil mulai menepikan kendaraan Monique kemudian bertanya.Kita ajak dia yuk?”
Dessy menggeleng cepat.
“Kenapa nggak mau, Say?”
“Gue nggak suka.”
“Tapi...”
Elo boleh pilih. Gue yang nebeng atau dia yang nebeng. Gue nggak sudi semobil sama Homo Sapiens itu.”
“Tapi….”
“Tapi apa?”
“Sekarang banyak penculikan lho.”
Dessy menepuk jidat. “Monique sayang, yang diculik tuh dimana-mana orang kaya. Bukan orangutan!”

*

            “Dia pe’ pulpen artinya apa?”
            “Pulpen kita.”
            “Kita pe’ pulpen?”
            “Kita itu artinya aku. Kita pe’ pulpen artinya pulpenku.”
            “Ngana artinya kamu. Torang artinya kita. Gitu kan?”
            “Iya.”
            Pelajaran singkat bahasa Manado itu berakhir.
            “Mudah-mudahan dengan belajar bahasa daerahnya Rita bersedia jadi pacar gue. Hehe…”
            Royke tersenyum kecil. Farel dari dulu memang tertarik pada adik kelasnya itu yang kebetulan satu daerah dengan Royke, dari Manado.
            “Ini ongkos les gue,” Farel menawarkan sebungku roti kepada Royke yang langsung disambut dengan bahagia. Roti bertabur abon memang adalah roti kesukaannya.
 Untung nyanda semua orang di kelas ini bersikap (se)rupa Arjun,cetusnya yang masih sering selip kata menggunakan bahasa daerah ke padanan bahasa Indonesia.
Mendengar nama Arjun disebut, Dessy yang duduk berselisih dua meja, jadi tertarik untuk diam-diam mendengar dialog keduanya.
Berarti elo tadi belom makan dong,” terdengar Farel berucap. “Kesian.”
Tak lama terdengar desak-desik plastik di antara mereka berdua.
“Terima kasih, Teman.”
Setelah beberapa detik yang sepertinya Royke baru melakukan gigitan pertama, Farel berkata lagi. “Lumayan kan buat ngurangin rasa laper?”
Tak terdengar jawaban. Sepertinya Royke hanya menjawab dengan anggukan. Sambil tetap berusaha terlihat sibuk Dessy terus menguping. Pikirnya, kalau sampai Royke menjelek-jelekkan Arjun sebagai pacarnya, ia sudah siap mendamprat Si Bopung yang menyebalkan itu.
“Ya,” balas Royke atas pertanyaan Farel tadi. “Ini mengurangin rasa lapar, mengurangin rasa jengkel juga.”
“Mengurangi,” Farel memperbaiki ucapan temannya.
Terdengar kursi berderit. Dessy menduga itu suara bangku yang diduduki Farel ketika bergeser untuk ia berbincang lebih dekat. “Hidup di kota besar ya emang kaya’ gini, Bro. Gue masih inget curhatan elo tempo hari.”
   Farel masih melanjutkan ucapannya. Kali ini dengan berbisik. “Elo musti bertahan seberat apapun tantangannya. Masa’ elo di Jakarta nggak sampe setahun?”
“Mengapa tidak,” terdengar jawaban Royke. “Kita nyanda segan mengambil langkah drastis seperti itu jika dianggap perlu. Jakarta sepertinya nyanda, eh… tidak cocok untuk kita, Teman.
Sambil mengeluarkan sekotak permen Chicklet dari kantong tasnya, Dessy terkesiap. Terkaget karena di balik sikap yang umumnya diam, Royke ternyata mulai tidak betah sekolah di tempat itu.
 “Ssst!” terdengar lagi suara Farel memanggil Royke. “Kamu nggak dendam kan sama Si Arjun?”
“Nyanda tahu. Seminggu ini kita so dua kali disakiti.”
“Kamu sudah dua kali disakiti?” Farel menatap tak percaya. Akibat banyak mengobrol dengan Royke lambat-laun akhirnya ia makin bisa menangkap makna kalimatnya.
“Iyo, eh iya. Dan peristiwa itu sangat me-meee…” kening Royke berkerut ketika berusaha mencari padanan kata paling tepat.
“Menakutkan?”
“Bukan.”
“Membahagiakan?”
“Bukan.”
“Mengagetkan? Mengharukan? Menyenangkan?”
“Menyebalin!” akhirnya Royke mendapatkan kata yang dimaksud. “Seminggu ini kita so dua kali disakiti. Dan itu betul-betul menyebalin.”
“Menyebalkan,” Farel mengoreksi.
“Iya, menyebalkan. Kalau di kampung kita, nyanda boleh bagitu…”
Dessy yang sejak tadi menguping kini sibuk menahan agar dirinya tak tertawa. Sekaligus ia juga penasaran memang apa yang membuat ia begitu sebal pada Arjun. Beberapa butir permen langsung ia lahap.
Kita nyanda suka dengan Arjun. Kita masih dendam betul sama dia.”
“Apa yang dia bikin, Bro?”
“Kawan, Si Arjun itu terus saja berulah. Berbuat macam-macam. Tak akan kita lupakan ulahnya saat di hari-hari pertama dulu dia pernah kasih bola-bola kamper warna warni.”
“O, yang untuk di toilet cowok. Terus?”
“Dia menyodorin beberapa butir ke kita. Ukurannya sudah seukuran biji kelereng pun.”
“Berarti itu udah bekas kepake, Bro. Makanya ukurannya jadi lebih kecil. Terus?
“Nah, dia bilang ke kita kalo bola-bola itu adalah permen.
Mata Farel membelalalk. “Permen?!”
“Iyo! Biarpun wanginya wangi kimia, kita tetap menerima karena kita pikir memang bagitulah permen di Jakarta. Terus, kita yang terlalu lugu, percaya saja apa yang ia katakan.”
“Terus?”
“Jadi ya... kita sempat cicipi lah!
Tak sampai lima menit kemudian, kelas mendadak heboh gara-gara Dessy kelolotan permen Chicklet.

Masukkan email untuk berlangganan:


Delivered by FeedBurner

Literature Top Blogs

Comments

Popular posts from this blog

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran