Langkah#1 Membuat Novel: Menggali Ide

Pembuatan novel itu perlu diawali dengan sebuah ide yang kita rasa menarik. Nah, di sini saya akan sampaikan teknik penulisan novel versi saya yang dalam beberapa hal memang agak berbeda dibanding penulis pada umumnya.

Ini adalah langkah pertama dari pembuatan sebuah novel dan saya akan gambarkan dalam bentuk dialog antara beberapa orang dimana ada tokoh bernama Q yang bertindak sebagai mentor. Mudah-mudahan dengan penyampaian dalam bentuk cerita, metode ini lebih mudah dicerna.




“Gue sering denger pendapat para penulis termasuk yang udah senior,” Q sedikit merenung. “Banyak dari mereka yang ngomong kalo bagian yang paling susah adalah waktu nyari ide. Menurut kalian gimana?”
            “Emang susah,” jawab Tumpal. “Susah kali aku bikin ide. Terakhir aku bikin cerita waktu aku kesetrum listrik di rumah. Pengalaman itu jadi ide buat cerpenku. Untung dimuat di sebuah media. Tapi, masak sih aku harus kena setrum dulu baru bikin cerita? Apa aku harus digigit uler dulu baru bisa bikin cerita tentang orang digigit uler?”
            Pengalaman mengenaskan Tumpal malah justeru bikin orang pada senyum-senyum.
            “Nyari ide cerita itu nggak sulit. Tau gak, ternyata buat ngedapetin ide nggak perlu nyari-nyari dengan cara pergi ke tempat-tempat sepi, merenung sendiri, cengar-cengir sendiri. Semedi, meditasi, tapa atau apalah nggak pernah gue lakuin kalo sekedar mau nyari ide.”
            “Serius?” tanya Devvy. “Gimana caranya ngedapetin ide dengan gampang?”
            “Contoh paling gampang dan dijamin murah ya dengan cara baca koran. Segala macem ide bisa kita dapetin dari satu edisi. Bukan hanya dari berita, tapi juga dari iklan, iklan baris, advertorial, pengumuman, humor, surat pembaca, susunan acara TV, semuanya.”
            Dari rak buku Q ngeluarin setumpuk koran bekas.
            “Mau dikiloin?” tanya Jepri. Mulai kurang ajar dia. Tapi Q seneng. Itu artinya hubungan mereka mulai deket.
            Selembar koran lantas diambil. “Sekarang coba kita liat isi koran ini. Disini ada berita, artikel, iklan bergambar, iklan baris, foto, pokoknya macem-macem. Gue ambil contoh buat yang satu ini.”
            Q nunjuk sebuah iklan baris sambil kemudian tangannya ngetik-ngetik lagi untuk nyalin isi iklan baris tadi ke notebook miliknya. Semenit kemudian, melalui proyektor, isi iklan baris tadi ditembak ke permukaan dinding.

Dijual Minibus 1000 CC merk X tahun 1985. Atas nama sendiri. AC Single. Pajak Panjang. Kondisi baik. Velg Racing. Hubungi Sanusi telp. 081xxxxxxx

            “Nah, ini adalah iklan baris mengenai penjualan mobil bekas. Berbagai macem ide bisa timbul dari sini. Mulai dari ide tentang mobil bekas, ide tentang mobil baru, ide tentang pemiliknya, ide tentang ban, rem dan orderdil lain, serta masih buaaaanyak lagi. Hayo, ide dari kalian apa lagi?”
            Dipancing pertanyaan seperti itu, jawaban demi jawaban dari lima orang di depannya mulai muncul. Q lantas nampung satu demi satu.

Mobilnya doyok banget, bocel disana-sini dan berdebu. Sering mogok dan kondisi fisiknya bener-bener acakadut. Kalo dipake, lebih banyak sengsaranya daripada senengnya.

Pemilik mobil adalah Mat Sani, pedagang sayur yang ingin ngeganti dengan mobil yang lebih baik. Masalahnya, Mat Sani belum punya duit yang cukup.

Idenya justeru bukan tentang minibus. Idenya tentang mobil sedan. Sedan sport yang paling canggih yang justru nimbulin masalah ke pemiliknya yang gagap teknologi/gaptek.

Mobilnya tetap minibus dengan kondisi yang di-upgrade dipasangin macem-macem aksesoris sehingga keliatan unik.

Kondisi mobil memang jelek. Tapi biarpun begitu mobil itu adalah kesayangan pemiliknya karena punya sejarah yang indah. Mobil juga nggak pernah ngadat.

Untuk memasuki langkah kedua, silahkan klik link berikut di sini.

Cuplikan buku "Nulis Novel Komedi" Marthino Andries - 2008
here!


Cantumkan email untuk berlangganan:


Delivered by FeedBurner

Literature Top Blogs

Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran