Langkah#2 Membuat Novel: Mengembangkan Ide


OK, kita udah dapet ide nih. Jadi apa langkah selanjutnya? Nggak tau sama yang lain tapi ini yang biasa saya lakuin setelah selesai dengan langkah#1 berupa mencari/menggali ide.


IDE CERITA: Tentang anak orang kaya yang jatuh cinta pada orang miskin.

            “Untuk ngembangin sebuah ide menjadi sebuah Thema, kita sekarang musti nentuin kalo kita tuh mau bikin cerita apa. Thema adalah garis besar cerita dan di dalemnya diusahain udah ada pesan yang mau kita sampein.”
            Jepri nunjukin jari.
“Nanti! Tunda dulu pertanyaannya. Nah, dari ide cerita bikinan Jepri ini, gue mau bikin pengembangannya menjadi sebuah cerita dengan tema cinta atau persahabatan. Jadi, gue bikin Themanya begini.”
            M lantas mulai ngetik lagi. Selang beberapa menit kemudian sebuah Thema yang diangkat dari ide bikinan Jepri diproyeksi ke LCD di permukaan dinding.


Tentang seorang cewek yang membuka usaha foto instan di mall. Ketika secara mendadak ruang fotonya dimasuki seorang cowok yang habis mencuri di toko mall, ia melindungi orang itu. Tak lama setelah perkenalan si cewek akhirnya mengetahui bahwa si cowok adalah anak orang kaya-raya yang melakukan itu hanya untuk sekedar mencari identitas diri. Ketika si cowok makin tertarik, si cewek tidak langsung menerimanya karena ia hanya menginginkan tidak lebih dari sekedar persahabatan.  

            “Thema diatas masih bisa kita ganti-ganti. Terserah apakah kita cukup puas atau nggak. Kalo kurang puas, kita bisa berkreativitas dengan ngebuat alternatif lain seperti ini.”


Tentang seorang cewek manis yang membuka usaha foto instan di mall. Suatu saat ada seorang cowok yang asal masuk saja ke ruang foto. Ketika foto sudah jadi, cowok itu – katanya – lupa bawa dompetnya. Merasa bahwa itu hanya akal-akalan si cowok untuk mendapatkan perhatian darinya, si cewek lalu melepaskannya. Si cowok ternyata tetap mengejarnya. Kendati mulanya cuwek, akhirnya mereka membina persahabatan.

            “Atau bisa juga seperti gini.”


Tentang seorang cewek pelayan toko pakaian di sebuah mall. Suatu saat ada seorang cowok yang masuk. Ia melihat-lihati beberapa pakaian sebelum kemudian keluar. Tak lama terjadi kegaduhan dimana sebuah toko perhiasan disana baru saja kemalingan. Tanpa si cewek ketahui, pencurinya adalah cowok yang tadi masuk ke tokonya. Perhiasan itu ternyata diselipkan di salah satu pakaian yang mereka jual.

            “Kita masih bisa bikin alternatif cerita yang lain lagi. Si cewek penjaga gerai bisa diganti sebagai si cowok. Cowok bandel tadi bisa diganti nenek-nenek atau diganti cewek yang seumuran dengannya. Konfliknya bisa dibikin lebih rumit, lokasinya bisa dipindah.”
            “Kenapa Themanya tentang orang yang buka usaha foto instan?” tanya Sashi.
            “Karena gue pingin ngebuat pertemuan keduanya unik, lucu, menarik. Tapi seperti tadi gue bilang, elo bisa gonta-ganti koq. Yang penting ceritanya jadi lebih menarik kan?”
            “Menariknya dimana?”
            “Itu baru ketauan waktu nanti jadi Draf pertama. Yang pasti, dengan gue nentuin usaha foto instan di mall, gue tuh lagi nyiapin amunisi cerita yang lebih baik dibanding kalo misalnya ceritanya berkisah tentang penjaga counter toko buku, misalnya.”

*
here!


Cantumkan email untuk berlangganan:


Delivered by FeedBurner

Literature Top Blogs

Comments

Popular posts from this blog

A Love Song From Bunaken (Bab 1)

Jurus Ampuh Membuat Buku Bagi Pemula dan Kurang Jago Menulis... Tapi Diterbitkan Penerbit Besar.

Review 2 Novel Terbaru - Seminggu setelah peluncuran